Jagung Di Kasepuhan Ciptagelar

gunung-halimun5

Selain padi, warga masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar juga menanam beragam komoditas sayuran seperti kol, cabai, dan jagung. Khusus jagung Zea mays setelah dikeringanginkan selama 3-4 hari atau dijemur selama 2-3 hari baru dipipil sebelum dijual kepada penampung.

“Dulu kegiatan memipil jagung dilakukan siang atau sore hari di dalam rumah,” kata Ujil, warga Kampung Ciptarasa di Desa Sirnarasa. Mereka memipil jagung pada siang atau sore hari karena rumah cukup terang. Sinar matahari menyusup lewat jendela. Memipil jagung sulit dilakukan malam hari karena bergantung pada lampu minyak alias cempor yang terbatas penerangannya.

Kini aktivitas memipil jagung itu dapat dilakukan warga pada malam hari sehabis Isya. Sumber listrik berasal dari pembangkit mikrohidro di Ciptarasa. “Jadi siangnya masih bisa di ladang,” ujar Ujil yang menanam seperempat hektar jagung bertongkol 2 itu.

Selain jagung menurut Abah Ugi, pemimpin adat Kasepuhan Ciptagelar, listrik mikrohidro yang dibangun di Kampung Cisalimar juga memberi manfaat bagi warga yang ingin menggiling kopi atau mengolah pisang. “Jumlah pembangkit ada 4 unit,” kata Abah Ugi yang menyebutkan PLTMH mendorong berkembangnya ekonomi warga di Kasepuhan Ciptagelar itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

77 + = 78