Lalat Buah: Daya Rusak Dahsyat

Lalat buah merupakan hama yang potensial menimbulkan kerugian besar pada tanaman hortikultura di seluruh dunia. Terdapat lebih dari seratus jenis tanaman hortikultura yang menjadi sasaran empuk bagi lalat buah.

Serangan lalat buah pada tanaman dapat berakibat buah menjadi rusak dan busuk karena lalat buah betina meletakkan telur di sana. Pada saat telur menetas menjadi larva, Makhluk liliput itu akan memakan daging buah.

Berikutnya buah akan gugur sebelum waktunya. Lalat buah betina meletakkan telur pada kulit buah yang sudah matang atau setengah matang. Lalat buah betina bisa meletakkan 1-10 telur di satu buah, bahkan dalam sehari total jenderal bisa meletakkan sampai 40 telur.

Lalat buah berasal dari wilayah tropis seperti benua Asia dan Afrika serta subtropis seperti Australia dan Pasifik Selatan. Di perkirakan lalat buah masuk ke Indonesia pada 1920 dan dilaporkan telah menyerang lebih dari seratus jenis tanaman hortikultura. Pada masa kini serangan lalat buah telah menyebar hampir di penjuru tanahair Di Indonesia pada saat ini dilaporkan terdapat 66 spesies lalat buah. Di antara species-spesies itu yang terkenal sangat merusak adalah Bactrocera spp.

Secara umum pada iklim sejuk, kelembaban tinggi dan angin tidak terlalu kencang, intensitas serangan dan populasi lalat buah akan meningkat. Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap sebaran dan perkembangan lalat buah. Sejauh ini pemanfaatan yang dilakukan beragam. Salah satunya memanfaatkan musuh alami dari lalat buah, yakni memakai parasitoid.

Keberhasilan pemanfaatan parasitoid sangat tergantung pada ketersediaan parasitoid yang hadir secara alami dalam jumlah memadai. Jenis parasitoid yang telah diketahui dapat menjadi parasit bagi lalat buah adalah Biosteres sp., Psyttalia fijiensis (Fullaway), Psyttalia fletcheri (Silvestri) dan Opius sp. Selain parasitoid, musuh alami lain dari lalat buah adalah semut, cecopet, dan kumbang carabid yang umumnya memangsa di stadia larva dan pupa.

Usaha pengendalian lalat buah memakai parasitoid sebagai agen hayati belum banyak diterapkan petani di lapangan. Hal tersebut terjadi karena petani memiliki kebiasaan memakai insektisida sebagai pilihan utama dalam menekan populasi lalat buah. Sayangnya seringkali petani abai pada dosis sehingga lalat buah menjadi resisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

85 − 75 =