Melongok Cikananga Wildlife Center

Namanya keren Cikananga Wildlife Center (CWC) atau dahulunya Pusat Penyelamatan Satwa (PPS). Lokasinya di Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Cikananga Wildlife Center yang diresmikan 1 November 2003 itu memang fokus pada penyelamatan satwa liar. Fasilitas yang disediakan CWC sangat lengkap. Di sana terdapat Animal Rescue, Learning Wildlife Center (pusat pembelajaran satwa untuk hidup liar), dan Conservation Breeding Center (program pengembangbiakan spesies terancam punah). Semua dibangun di lahan seluas 14 ha.

Sampai Juli 2009 jumlah satwa di CWC mencapai 266 individu. Dari jumlah itu kelompok aves paling besar, mencapai 151 individu. Berikutnya mamalia (33 individu) dan reptil (79 individu). Kelompok aves antara lain terdiri dari elang jawa Spizaetus bartelsi, elang brontok S. cirrhatus, kakatua tanimbar Cacatua goffini, dan merak Pavo muticus. Untuk mamalia ada orangutan Pongo pygmaeus, macan kumbang Panthera pardus melas, dan siamang Symphalangus syndactylus.

Satwa-satwa di Cikananga Wildlife Center yang pada kurun 2001-2005 pernah menampung hingga 3.433 individu itu 90% di antaranya diserahkan langsung oleh pemilik. Sisanya, 10% merupakan hasil sitaan dari operasi penertiban satwa dilindungi yang dilakukan CWC bersama-sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat. Berdasarkan peraturan pemerintah melalui SK Menhut No 479/Kpts-VI/1992 terdapat 95 jenis mamalia, 379 jenis burung, dan 30 jenis reptil yang statusnya dilindungi.

Mereka perlu dilindungi dengan berbagai pertimbangan. Selain populasi di alam kritis memiliki peluang 20% punah dalam 5 tahun atau masuk 20% status genting dalam 20 tahun–sebarannya pun terbatas. Yang lain daya reproduksi satwa-satwa itu rendah, punya keunikan khas seperti bekantan atau merak jawa, serta menghindari satwa-satwa itu dari ancaman perburuan dan perdagangan ilegal.

Data Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Kebun Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam menunjukkan pada 1992 terdapat 68.746 orang yang memiliki satwa dilindungi di seluruh Indonesia. Sekitar 25.426 orang diketahui berdomisili di Jakarta.

Kepemilikan mereka bermacam-macam mulai dari satwa hidup (58.957 ekor), satwa opsetan (58.136 buah), dan mengoleksi bagian-bagian tubuh lain (66.032 buah). Khusus satwa hidup kepemilikan perorangan sedikit, berkisar 1-3 ekor. Ini bakal menjadi masalah karena mendorong terjadinya inbreeding. Pun peluang satwa untuk kembali ke alam sangat kecil tanpa proses rehabilitasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 3 = 5