Pilihan Ulat Sutera Emas

ulat-kipat-1

Ulat sutera tak melulu Bombyx mori yang menghasilkan benang sutera putih. Namun di luar ulat yang gemar memakan daun murbei tersebut, masih ada ulat sutera lain, yakni ulat kipat Cricula trifenestrata.

Ulat kipat justru dikenal sebagai hama jambu mete, menyerang alpukat, kedondong, sampai cokelat. Namun dibalik peran sebagai hama yang bagi pekebun dianggap merugikan tersebut, justru ulat kipat bisa memproduksi kokon alias kepompong bahan sutera berwarna keemasan.

Sebab istimewa itu, sutera berbahan kokon ulat kipat bisa mencapai harga Rp500.000/m dengan lebar 48 cm. Harga itu 3 kali lipat sutera asal Bombyx mori yang paling banter Rp200.000 untuk ukuran sama.

Ulat kipat yang masuk Lepidoptera itu serangga dewasanya adalah ngengat yang aktif di malam hari. Ngengat tersebut akan meletakkan telur secara teratur dan rapi di pinggiran daun bawah atau pada tangkai daun. Telur muda berwarna putih kekuningan yang kemudian menjadi kelabu. Stadia telur sekitar 7-10 hari.

Ulat kipat hidup bergerombol dengan ukuran dewasa mencapai 50-70 mm. Warna ulat muda kuning muda, sedangkan kokon dibungkus oleh jala berwarna kuning emas dan sangat liat.

Siklus hidup ulat kipat berlangsung 20-45 hari dan mengalami 4 kali pergantian kulit atau instar. Pada instar kelima sebagai ulat berukuran 4-6 cm, ulat kipat makan lebih rakus supaya memperoleh cukup energi membentuk kokon. Kokon kuning keemasan akan terbentuk dalam 2 hari.

Kokon alias kepompong itu yang selanjutnya bisa dipintal menjadi benang. Caranya kepompong alias kokon direbus terlebih dahulu, lantas didinginkan selama 3-4 jam. Bentuk akhirnya seperti buntalan kapas.

Selanjutnya kepompong itu dipintal dengan alat tenun. Setiap kokon ulat kipat bisa menghasilkan sampai 2.000 filamen atau benang tipis yang tebalnya bisa 2-3 kali tebal kepompong Bombyx mori. Filamen itu selanjutnya dipilin menjadi benang twist untuk diolah menjadi kain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

70 − 64 =