Pohon Bangsawan di Taman Nirmada

Ini cerita tentang masa lalu Taman Narmada di Kecamatan Narmada, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Raja Karangasem Sasak I Gusti Gde Karangasem (1870-1891), putra mahkota raja sebelumnya I Gusti Ngurah Ketut Karangasem (1831-1869) kerap datang dari Istana Puri Ukir Kawi di Cakranegara, ibukota kerajaan Karangasem Sasak. Berada di Taman Narmada yang asri dan hijau royo-royo itu membuat tubuh dan pikiran raja menjadi bugar dan segar.

Taman Narmada yang dibangun selama 27 tahun (1852-1879) tersebut merupakan tempat istimewa. Di sana setiap purnamaning kalima tahun saka sekitar Oktober-November penanggalan kalender Masehi raja menggelar Upacara Pakelem untuk memohon kesuburan tanah dan turunnya air dari langit sehingga rakyat dapat bercocok tanam. Itu setelah di sana dibangun Telaga Segara Anak miniatur dari Danau Segara Anak di Gunung Rinjani tempat Upacara Pakelem dilakukan sebelumnya.

Empat arsitek taman saat itu: Gusti Ketut Wana, I Wayan Pande, pedanda Nyoman Wonosari, dan Gusti Nyoman Mumbul membagi Taman Narmada ke dalam 4 kelompok taman. Dua taman di antaranya yakni Taman Bidodari dan Taman Peresa berisi tanaman buah. Konon kedua tempat itu menjadi persinggahan favorit raja dan keluarganya.

Taman Bidodari banyak ditanami pohon manggis. Puluhan Garcinia mangostana itu menghiasi setiap sisi panjang kolam. Di sebelah selatan Bidodari melewati Kokog Rumeneng, sebuah sungai, puluhan Durio zibethinus menyesaki Taman Peresa.

Sebagian kecil dari pohon-pohon berumur ratusan tahun itu masih bertahan hidup sampai detik ini. Manggis mendominasi. Tinggi batang si ratu buah itu rata-rata melebihi bangunan ruko berlantai 2. Diameter batangnya minimal selebar telapak tangan orang dewasa. Tajuk pohon dipertahankan berbentuk piramida dengan jarak tanam antarpohon sekitar 7 m.

Deretan pepohonan itu jika ditengok dari kejauhan mirip barisan gunung. Sejauh ini tanaman yang diduga berasal dari belantara hutan di Asia Tenggara itu kondisinya baik. Batang pohon yang berwarna cokelat gelap dan kasar itu tampak kokoh.

Manggis lingsar dari nama daerah tempat pertamakali ditanam–itu punya keunikan. Rasanya manis dan segar, tidak asam seperti manggis dari daerah lain. Daging buahnya putih dan kenyal. Ukuran buahnya relatif besar dan seragam, 125-140 gram/buah. Bobot itu lebih berat ketimbang varietas unggul nasional, manggis kaligesing, 100-125 gram/buah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

33 − 23 =