Potret Mangga Impor Di Tanahair

mangga-imporKehadiran aneka jenis mangga impor seperti chokanan, khioe sawoei, okyong, ciwangwang, dan namdokmai dari Thailand, irwin dari Australia, dan yu wen dari Taiwan memang menambah semarak jenis-jenis mangga yang dijual di tanahair selain keberadaan mangga lokal seperti arumanis, podang, dan gedong gincu.

Serapan pasar mangga-mangga impor itu meski tidak besar, tetapi selalu ada. Pasarnya sejauh ini golongan menengah ke atas yang memiliki perilaku buying impuls (dorongan untuk membeli) terhadap sosok mangga yang menarik. Tengok saja penampilan irwin yang sedap di pandang mata karena memiliki kulit merah, kuning, dan hijau. Atau  yu wen yang bobotnya dapat mencapai 2 kg per buah dengan rasa manis dan tekstur daging lembut.

Mangga-mangga impor itu masuk lantaran memberikan sesuatu yang sulit terpenuhi oleh mangga lokal, yakni rasa, kualitas, dan jaminan kontinuitas. Sebagai gambaran saat ini impor mangga melonjak di atas 500% dibandingkan pada 2003 yang baru mencapai 350 ton per tahun. Mangga khioe sawoei (Thailand) dan irwin (Australia) paling banyak diimpor. Khioe sawoei misalnya disukai lantaran saat muda dan mengkal, rasa buahnya sudah manis.

Produksi mangga lokal sebetulnya sangat besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013 memperlihatkan produksi mangga di Indonesia mencapai 2,01-juta ton. Volume produksi itu paling besar dibandingkan jenis-jenis buah populer lain seperti rambutan, nanas, durian, serta jeruk. Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar produksi itu sebesar 72,02% dan 27,98% berasal dari luar Pulau Jawa.

mangga-impor1Sejak 6-7 tahun lalu pekebun di tanahair sudah mulai mengebunkan mangga-mangga impor itu. Apalagi faktanya mangga-mangga impor yang poliembrionik alias dapat berkecambah lebih dari satu itu mampu beradaptasi dan tumbuh optimal di daerah berawan dengan curah tinggi seperti di Jawa Barat, Provinsi Banten, dan Pulau Sumatera. Produktivitasnya? Sejauh ini tinggi. Tabulampot mangga namdokmai saja bisa berproduksi hingga 50 kg per musim.

Itu berbeda dibandingkan mangga lokal seperti arumanis, manalagi, dan gedong gincu. Sebab karakternya monoembrionik alias hanya satu kecambah, mereka hanya tumbuh optimal di daerah kering dan mendapat sinar matahari penuh seperti di daerah pantai utara Jawa mulai dari Indaramayu (Jawa Barat) hingga Situbondo (Jawa Timur). Di luar itu pertumbuhan mangga tidak optimal dan produktivitas rendah.

Contoh gedung gincu yang ditanam beberapa pekebun di Sumatera memiliki warna kulit buah tak semerah gedong gincu dari Pulau Jawa. Begitu pula dengan arumanis yang rentan serangan hama penggerek batang Cryptorrhynchus sp. Hama itu banyak menyerang pohon mangga di daerah dengan kelembapan dan curah hujan tinggi seperti Pulau Sumatera.

Andai pun menginginkan mangga lokal berkembang baik di daerah dengan  curah hujan tinggi perlu seleksi varietas mangga yang tahan penggerek batang. Jadi pantas kalau Anda berjalan-jalan di Medan, Sumatera Utara, misalnya banyak pekarangan didominasi oleh mangga impor seperti namdokmai dan chokanan yang relatif tahan serangan penggerek batang serta berkembang baik dalam lingkungan lembap dan banyak hujan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

53 + = 58