Produksi Telur Asin Kualitas Tinggi

telur-asin1

Membuat telur asin dengan tingkat keasinan pas, masir atau berminyak, serta tahan lama tidak sembarangan dan butuh kecermatan. Itu dilakukan oleh Rully Lesmana, pemilik Surya Abadi, produsen telur asin di Karawang, Jawa Barat.

Menurut peraih penghargaan Produk Pertanian Berdaya Saing 2013 dari Kementerian Pertanian RI tersebut, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi kualitas telur asin. Yang sering dilupakan oleh produsen telur asin adalah mencuci bersih telur asin sebelum tahapan membuat telur asin dimulai.

Mengapa mencuci telur asin yang baru datang dari pengepul atau peternak sangat penting? Rully menjelaskan, telur asin yang belum dicuci masih banyak mengandung mikroba. Mikroba tersebut menetap pada kerabang telur dan bisa mempengaruhi proses pengasinan telur. “Tanpa pencucian, tingkat keberhasilan memperoleh telur asin berkualitas tinggi sedikit. Isi telur bisa menjadi hitam bila ditaruh lama,” kata peraih Penghargaan Ketahanan Pangan pada 2010 itu yang menjamin produksi telur asinnya mempunyai tingkat keasinan pas dan masir tersebut.

Dengan standar tinggi produksi, Rully Lesmana memang dapat membuktikan produksi telur asinnya memang bermutu wahid. Pantas bila pesanan terus mengalir kepada pemilik usaha keluarga yang memperoleh Nomor Veteriner Kontrol (NVK) dari Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Karawang itu.

Setiap sepekan Rully mampu mengirim hingga 200.000 telur asin mentah ke berbagai distributor langganan di Pulau Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan. “Produk kami juga sudah masuk ke pasar Singapura dan Belanda,” ujar Rully. Pasar Singapura sangat ketat dalam standar mutu. Berikut 4 kunci sukses Rully memproduksi telur asin kualitas tinggi (Dian Adijaya Susanto).

1. Telur asin yang datang dipindai terlebih dahulu untuk melihat kualitas. Pemindaian dilakukan dengan menyorotkan telur asin ke lampu. Salah satu ciri telur asin yang baik terlihat bentuk kuning telurnya membulat.

2. Telur asin yang siap diasinkan terlebih dahulu dicuci bersih dengan menggunakan air mengalir. Setelah itu dikeringanginkan sebentar.

3. Pada proses pengasinan menggunakan garam khusus. Garam yang dipakai adalah garam dengan standar food grade yang dipakai untuk membuat roti.

4. Sekam dihaluskan ulang sehingga menjadi seperti debu. Sekam tersebut dipakai sebagai pembungkus telur.

dianRiwayat penulis: Penulis pernah menjabat Redaktur di Majalah Pertanian Populer, Trubus. Beberapa rubrikasi: sayuran, obat tradisional, satwa dan ikan, serta eksplorasi pernah diasuhnya. Penulis yang merupakan alumnus Program Pascasarjana Universitas Indonesia dalam Biologi Konservasi itu juga pernah menangani Unit Pengembangan Bisnis dan Promosi jaringan Pemasaran Pertanian dan menjadi konsultan. Korespodensi: dianadijaya17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

62 − 52 =