Rumah Susun Udang Galah (1)

udang-galah1

Pembesaran udang galah Macrobrachium rosenbergii dapat mengadopsi gaya rumah susun. Kelebihannya adalah dalam setiap meter persegi dapat dipelihara 30 bibit udang galah berukuran 1 cm. Dengan gaya itu pula kelulusan hidup udang galah dapat meningkat menjadi 70% dari semula 60%.

Sejatinya selama ini pembesaran udang galah hanya memanfaatkan dasar kolam sebagai tempat tinggal. Itu pula yang membuat padat penebaran terbatas, 10 ekor per meter persegi.

Bila memaksa dengan populasi padat, udang galah yang tengah moulting alias ganti kulit akan kesulitan menghindar dari kejaran udang lain. Sebab itu mortalitas bisa tinggi, mencapai 40%.

Rumah susun memang meningkatkan padat tebar sekaligus produktivitas. Adalah Dr Ir Fauzan Ali, sang penemu dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI di Cibinong, Bogor yang menemukan rancang bangun rumah susun udang galah itu. Dengan rumah susun populasi udang galah yang dipelihara dapat lebih banyak lantaran rumah susun memanfaatkan luas dan tinggi bidang kolam.

Setiap rumah berukuran 1,5 m x 1,5 m dengan 5 lantai. Susunan bertingkat itu membuat udang dapat bersembunyi. Di setiap lantai terdapat ruangan berukuran 20 cm x 20 cm yang pas dengan ukuran panjang tubuh udang sampai siap panen. Manfaat lain, ruangan besar membuat pakan tidak terselip sehingga kualitas air terjaga.

Rumah susun membuat udang terhindar dari pencurian. Maklum rumah susun dibangun dari bilah bambu sehingga menyulitkan pencuri menjaring. Yang dipakai umumnya bambu tua karena bambu muda masih mengeluarkan lendir yang dapat mencemari kolam. Bambu berdiameter 5 cm itu dipotong dengan panjang 80 cm. Setelah itu dirangkai membentuk bujur sangkar seperti kotak keramba.

Tak hanya bambu, rumah susun dapat dibuat dari kayu. Namun tidak disarankan memakai besi. Besi dapat mengalami karat yang menyebabkan populasi udang keracunan. Pengait antarbambu atau kayu juga tidak boleh dipaku. Adanya bambu dan kayu memudahkan peripiton yang menjadi pakan udang dapat menempel sehingga udang tidak kekurangan pakan alami.

Agar tidak mengapung, dasar rumah susun diberi 2 penopang bambu di kanan dan kiri dengan panjang 30 cm. Setelah itu ditancapkan ke dasar kolam. Masing-masing keramba itu lalu disusun memenuhi 80% luas kolam. Agar mudah dipanen, antarrumah diberi jarak kurang lebih 1 meter. Panen dilakukan dengan mengambil udang yang menempel pada ruang rumah.

Sistem rumah susun mutlak memperhatikan kualitas air. Harap mafhum semakin padat penebaran, persaingan mendapat oksigen tinggi sehingga perlu ada sirkulasi dengan arus tenang. Dalam sehari air harus diganti 300%. Dengan cara menyaring melalui filter sebanyak 3 kali sehari.

Sirkulasi juga berperan membuang sisa pakan dan kotoran. Berdasarkan hitungan seekor udang rata-rata mampu mengkonsumsi 100 gram pakan/hari. Dari 100 gram itu yang jadi amonia 21% bila menggunakan pakan yang mengandung 35-40% protein. Saat pakan mengendap, protein berubah menjadi amonia. Kehadiran amonia dapat menghalangi masuknya oksigen, sehingga udang keracunan, lemas, dan malas makan. Ujung-ujungnya mati.

Stabilitas suhu dan pH juga memegang peranan penting. Idealnya suhu berkisar 25-26 derajat Celcius dengan pH 6,5-7. Saat suhu dan pH stabil, nafsu makan udang terjaga. Saat sirkulasi, kualitas air, dan suhu terjaga, tingkat kelulusan hidup pada pembesaran dengan padat tebar tinggi dalam rumah susun tetap tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

57 − 56 =