Vichai Pinyawat, The Legend of Birds in Thailand

vichai pinyawat home (54)Demi sepasang loriket langka, Vichai Pinyawat pergi ke Antananarivo, Madagaskar. Klangenan berjambul bak cenderawasih itu ditebus Rp300-juta. Predikat kolektor burung dunia pun melekat padanya.

Ia manut saat sang kakek mendapuk menjadi manajer produksi minyak kelapa. Sejak itu jalan hidupnya berubah. Tiada waktu tanpa urusan kelapa. Empat puluh tahun lalu usaha turun-temurun itu digiringnya menuju kejayaan. Seiring dengan itu jiwanya dipenuhi bibit-bibit kejenuhan.

Selama 15 tahun Vichai merasa hidupnya bagai terpenjara. Pagi hari ia sudah disibukkan membaca setumpuk laporan. Diselingi kunjungan ke pabrik, siang hari dihabiskan memimpin rapat-rapat manajemen. Usai menjamu para rekanan bisnis, larut malam ia baru menjumpai anak dan istri yang sudah lelap tertidur. Begitu terus berulang-ulang hingga nyaris tidak ada waktu untuk melepas penat.

Bagi keluarga, Vichai ditakdirkan menjadi pria pilihan. Sejak lama ayah dan kakeknya memberi perhatian lebih. Sedari kecil naluri bisnis Vichai sudah mencuat ketimbang saudara sekandung. Vichai kecil tampak sering menjajakan panganan kue basah di sekolahnya. “Untuk menabung supaya bisa membeli burung-burung kecil,” katanya. Gelatik adalah burung incarannya.

Siapa sangka 30 tahun berlalu hobi mengoleksi burung kian mencorong. “Saya memilih pensiun untuk menikmati hobi ini,” katanya. Vichai pun tak segan menghamburkan Rp20-miliar untuk koleksi-koleksi burungnya. Hari-hari Vichai kini sudah benar-benar habis mengurusi burung. Salah satu rutinitasnya menerawang layar televisi 24 inci di ruang kerja. Di layar itu terpampang aktivitas blue and gold makaw Ara araruna dalam 2 kandang berbeda. “Mary sudah mau bercumbu belum?” katanya

Blue and gold makaw bernama Mary itu memang kesayangan Vichai. Betina makaw berumur 4 tahun itu selalu dinanti-nanti agar segera bertelur. Sayang, sang jantan seringkali ogah-ogahan mencumbunya. Yang tampak si jantan sering mematuk kepala Mary. Balasannya Mary memilih menyingkir ke dalam sarang. “Sudah setahun dipasangkan belum terlihat kecocokan,” katanya. Tampaknya Vichai perlu bersabar lebih lama.

Makaw besar itu hanya satu dari puluhan jenis koleksi Vichai. Boleh jadi salah satu terlengkap di dunia. Jenisnya beragam. Mulai dari makaw besar, mini, hingga hibrida ada di sana. Sebut saja jenis makaw besar seperti blue throated macaw Ara gloucogularis, buffon macaw A. ambigua, dan scarlet macaw A. macao. Atau jenis mini seperti hahn’s macaw A. nobilis nobilis dan severe macaw A. severa. Tak kalah cantik jenis-jenis hibrida seperti maui sunset makaw yang bulunya kuning keemasan layaknya warna matahari tenggelam.

Memang tak semua makaw itu diunduh untuk kawin. Maklum tak semua jenis itu memiliki pasangan. “Yang jumlahnya banyak hanya blue makaw sekitar 6 pasang,” katanya. Dengan jumlah itu Vichai dapat menggonta-ganti pasangan bila salah satu di antara mereka tidak cocok. “Untuk Mary, jantannya yang ditukar-tukar sampai ada yang cocok,” kata penggemar bonsai itu.

Hampir sepanjang waktu pemilik VP House Farm di kawasan Meenburi, Bangkok, Thailand itu bergelut dengan koleksi burungnya. Rumahnya seluas 2.500 meter persegi itu disulap menjadi taman burung mini. Ratusan kandang berukuran 2 m x 1 m x 2 m menempel kokoh di tembok yang mengitari rumah. Ada pula kandang-kandang besar yang luasnya mencapai 30 meter persegi. Di sana Vichai menyimpan aneka jenis burung rangkong. Ayah 2 putra itu juga membuat kolam seluas 100 meter persegi dan dihuni macam-macam angsa. “Saya juga memiliki ratusan perkutut unggul,” ungkapnya.

vichai pinyawat home (47)Koleksi burung-burung itu tidak sekaligus terkumpul. Tiga puluh lima tahun lalu ia memulai dengan mengoleksi ayam bantam. Ayam kecil berbobot 500 gram itu dipelihara karena di Bangkok saat itu dilanda demam adu ayam. “Saya sering menang kalau lomba. Yang berkesan menjadi juara di King’s Cup 1972,” tutur Vichai bangga menunjukkan koleksi-koleksi piala kejuaraan di sebuah lemari jati besar.

Di tengah kesukaan menyabung ayam itu, perkutut mulai dilirik. Suatu ketika Vichai benar-benar dibuat terkesima begitu mendengar alunan suara kung di rumah koleganya. “Burung apa ini? Bagus sekali suaranya,” katanya. Sepuluh pasang nuklaw jawa-sebutan perkutut di Thailand-dibeli. Sejak itu pelan-pelan koleksi 200 ayam bantamnya mulai disingkirkan. Sebagian dijual, sisanya diberikan kepada teman.

Nama Vichai akhirnya membumbung tinggi karena perkutut juga. Setelah sukses menangkarkan, koleksinya pun berulang-ulang menjuarai lomba bergengsi King’s Cup. Sebut saja Pharao V yang darahnya menitis pada Susi Susanti, perkutut legendaris di tanahair pada 2000. Ring VP seolah jaminan menang kontes.

Pehobi Indonesia pun mengincar tangkaran Vichai. Sejarah pernah mencatat nama Jonny Gunawan sebagai kolektor lokal pertama yang menebus kung Vichai, perkutut permata hijau dengan emas seberat 3 kg. “Dialah (Jonny, red) yang membuat bisnis perkutut di sini ramai,” kata godfather perkutut Bangkok itu.

Di sela-sela kesibukannya mencetak perkutut superunggul setelah peternak Thailand Selatan mulai mengerogoti kemapanannya, sejak 1995 Vichai mengumpulkan anggota keluarga Pssitacidae seperti loriket, parkit, dan makaw. “Burung-burung itu benar-benar eksotis. Warna-bulunya sangat cantik,” katanya.

Salah satu penyedia hewan langka terbesar di Bangkok, Classica co. inc di datangi. Tak jarang Vichai terbang ke berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Austria, Filipina, bahkan Madagaskar, semata-mata untuk melengkapi koleksinya. Belakangan keluarga Cacatuidiae seperti kakaktua raja Probosciger atterimus, kakaktua raja Cacatua goffini turut di koleksi. “Saya juga punya cenderawasih asal Papua,” ujarnya menunjuk sepasang Paradisea apoda itu. Favoritnya karena mahal dan langka adalah leadbeather cockatoo Cacatua leadbeateri asal Austria yang ditebus Rp250-juta/ekor

Koleksinya yang nyaris lengkap dan beragam burung yang hampir punah, membuat hunian Vichai kerap didatangi peneliti burung mancanegara dan pejabat CITES. “Mereka datang untuk mendokumentasi juga ingin memonitor perkembangan burung-burung yang saya beli,” kata penggemar musik klasik karya Beethoven dan Covosky itu.

Lantaran kolega-kolega dari Asia dan Eropa yang datang dan tertarik ingin memiliki koleksinya, membangkitkan naluri bisnis Vichai. “Tunggu hasil anakannya,” katanya setiap kali para kolega itu memaksa beli. Kakaktua menjadi sasaran pertama ditangkarkan lantaran Vichai beranggapan semua orang suka. Hasilnya sejauh ini lumayan. Setelah kali-kali gagal, beberapa jenis kakatua seperti kakaktua raja mau juga bertelur. “Tidak ada teknik khusus hanya memanipulasi kandang mirip habitat aslinya,” ujarnya.

Vichai benar-benar total mengejar semua informasi setelah mutung menangkarkan makaw. “Burung ini sungguh sulit padahal yang berminat mulai banyak,” ujarnya. Bersama anaknya, Chai Pinyawat, ia tak segan mendatangi penangkar-penangkar makaw sukses di Spanyol dan Filipina. “Ternyata ada yang salah dengan pemeliharaan di kandang selama ini,” tuturnya. Kandang yang baik itu perlu terpapar matahari sehingga makaw doyan kawin.

Tugas merawat burung-burung itu dilakukan 2 pekerjanya. Vichai sendiri lebih fokus pada penangkaran sekaligus pengecekan kandang. “Saya baru tidur sekitar pukul 22.00 setelah berkeliling ke semua kandang,” kata penggemar Mercedes Benz itu. Saat matahari mulai naik, sekali lagi Vichai berkeliling lalu melihat polah Mary dari layar televisinya. Tak ada tanda-tanda kejenuhan di sana (Dian Adijaya Susanto).

dianRiwayat penulis: Penulis pernah menjabat Redaktur di Majalah Pertanian Populer, Trubus. Beberapa rubrikasi: sayuran, obat tradisional, satwa dan ikan, serta eksplorasi pernah diasuhnya. Penulis yang merupakan alumnus Program Pascasarjana Universitas Indonesia dalam Biologi Konservasi itu juga pernah menangani Unit Pengembangan Bisnis dan Promosi jaringan Pemasaran Pertanian dan menjadi konsultan. Korespodensi: dianadijaya17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 13 = 17