Berkebun Talas Di Bogor

Sejatinya, kebun talas seluas 2.500 m2 tersebut berada di pinggir jalan raya di Kecamatan Tamansari, Bogor, Jawa Barat. Namun pemandangan kebun itu baru terlihat jelas bila berjalan melewati undakan yang posisinya lebih tinggi dari badan jalan. Daun-daun Colocasia esculenta berumur 4-5 bulan itu tampak hijau dan lainnya terlihat agak menguning.

Tanaman-tanaman itu dibudidaya memakai guludan setinggi 10-15 cm. Jarak tanam rapat sekitar 50-60 cm dengan jarak antarguludan sekitar 1 m. Saat bebeja.com menyambangi, si empunya kebun baru membersihkan sebagian gulma yang tumbuh subur di atas guludan. Sekitar 4-5 bulan ke depan, menginjak November-Desember 2019, tanaman tersebut siap dipanen.

Kebun talas itu ditanami 2 jenis talas, yakni talas hawai serta talas bogor. Talas bogor lebih dominan. Harap mafhum, serapan pasar untuk talas bogor cukup besar. Tak hanya dijajakan segar, tapi juga kini diserap industri makanan sebagai kue lapis talas serta penganan lain. Harga jual segar berkisar Rp3.500-Rp4.500/kg di tingkat pekebun. Namun bila diolah harga melambung hingga Rp30.000-Rp35.000.

Meski demikian talas segar yang benar-benar matang dengan ciri daging talas keabu-abuan bisa menembus harga di atas Rp50.000/ikat. Satu ikat terdiri atas 3 talas berbobot besar, di atas 500 gram, bahkan ada yang mencapai 1 kg. “Talas yang dijual adalah jenis talas ketan dan talas mentega,” ujar Dadang, pedagang talas di Kebun Raya Bogor (KRB).

Menurut Iwan di Citepus, Bogor, tak repot memelihara talas. “Yang penting  terkena langsung sinar matahari. Lahan juga harus gembur serta diberi pupuk kandang supaya pertumbuhan tanaman maksimal,” ujar pekebun talas seluas 1.000 m2 itu. Iwan rutin memberikan pupuk kandang saban 2-2,5 bulan. “Sisanya hanya menyiangi gulma,” ujarnya. Beruntung Bogor yang sohor sebagai kota hujan tak sampai memaksa Iwan sering menyiram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

52 − = 46