Diet Karbon Dari Pekarangan Rumah

Pohon mangga milik Yustina (63 tahun) di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, sudah berumur di atas 25 tahun. Meskipun telah jarang berbuah, tetapi Yustina terus merawatnya. Selain menjadi rumah bagi beraneka jenis anggrek, Mangifera indica tersebut juga memberi keteduhan di pekarangan depan rumah. Sesungguhnya dengan merawat pohon mangga bergaris tengah sekitar 40 cm itu, Yustina membantu mengurangi emisi karbon.

Dampak dari melonjaknya emisi karbon adalah pemanasan global yang memicu perubahan iklim. Unsur karbon memang bertanggungjawab terhadap pemanasan global tersebut. Beragam aktivitas manusia, mulai dari berkendaraan memakai bahan bakar fosil hingga penebangan hutan, mendorong peningkatan karbon itu. Sebab itu, penurunan produksi karbondiokasida memang perlu diupayakan, salah satunya melalui pohon di pekarangan.

Rumah-rumah di kota, kampung, maupun desa yang memiliki pekarangan, lazim menanam beragam pohon buah seperti mangga, rambutan, sawo, nangka, serta alpukat. Bahkan, di kampung dan desa, masih bisa dijumpai pohon langka saat ini di pekarangan, seperti kecapi, menteng, kemang, dan gandaria. Populasi pohon di pekarangan tersebut bervariasi, tergantung dari luas pekarangan serta nilai manfaat. Namun rata-rata jumlahnya 1-3 pohon.

Pekarangan merupakan agroekosistem dengan keanekaragaman tanaman. Keanekaragaman tanaman tersebut penting sebagai penyimpan biomassa untuk menjaga stabilitas karbon dalam jangka panjang. Jumlah total materi pohon di atas permukaan tanah yang dinyatakan dalam satuan ton bobot kering per satuan luas merupakan biomassa pohon itu. Biomassa pohon terbentuk melalui penyerapan karbondioksida dari atmosfer, setelah melalui serangkaian proses disimpan sebagai biomassa kayu.

Maka dari itu, merawat pekarangan dengan melakukan konservasi aneka pohon di dalamnya, bisa menjaga cadangan karbon. Bila pohon itu ditebang sehingga biomassa pohon hilang, maka kantong-kantong karbon terbuka dan karbon lepas ke udara. Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) pada 2007 memaparkan bila kondisi tersebut mempengaruhi pula penghitungan cadangan karbon seperti penebangan pohon di hutan.

Penanaman serta pemeliharaan pohon di lahan sejatinya dapat mendongkrak cadangan karbon. Sebagai gambaran, pohon berdiameter 30 cm (diameter diukur dari setinggi dada) di pekarangan, mempunyai persentase cadangan karbon sekitar 30%. Persentase tersebut tidak berbeda jauh dari pohon-pohon di hutan, pada kisaran 30-40% cadangan karbon dengan diameter serupa.

Yang menarik, berat jenis kayu yang didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan suatu bahan dengan kerapatan air tersebut, memegang andil dalam pendugaan laju penyerapan karbon. Berat jenis pohon kurang dari 0,5 (kategori berat kayu ringan-sedang) seperti pohon petai, kedondong, srikaya, dan kenanga, biasanya mempunyai kecepatan tumbuh besar yang juga mengindikasikan laju penyerapan karbon tinggi.

Riset D.A. Susanto, K. Kartawinata, dan Nisyawati dari Jurusan Biologi Universitas Indonesia pada 2013 tentang Potensi Karbon dalam Biomassa Pohon Buah dalam Pekarangan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyodorkan aneka fakta. Beragam pohon buah seperti rambutan, durian, dan mangga limus dipertahankan keberadaannya di pekarangan oleh si empunya, meskipun tergolong pohon tua berumur puluhan tahun. Biarpun produktivitas merosot tajam, tetapi mayoritas pohon-pohon yang diwariskan dari generasi ke generasi si empunya pekarangan itu, masih bernilai manfaat sebagai peneduh.

Penelitian itu juga menelaah daya rosot atau kemampuan menjerap karbondioksida dari kehadiran pohon buah di pekarangan. Sejumlah pohon diketahui mempunyai kemampuan tinggi dalam menjerap karbodioksida seperti nangka, menteng, gandaria, kecapi, duku, mangga, serta matoa. Pohon-pohon itu direkomendasikan untuk dipertahankan sebagai tanaman pekarangan. Apalagi seluruh pohon itu juga memberikan nilai ekonomi tinggi dari penjualan panen buah.

Perlu disadari, diet karbon bisa berjalan mulus bila semua jenis pohon buah dan nonbuah di pekarangan, terutama pohon berdiameter di atas 30 cm terus dipelihara serta dirawat. Itu mengingatkan struktur komunitas pohon di pekarangan tersebut dapat dipersamakan dengan hutan tebang pilih. Pada hutan tebang pilih, persentase cadangan karbon pada pohon berdiameter di atas 30 cm terus meningkat seiring umur hutan itu, yakni 75%, 78%, dan 83% pada umur hutan 0-10 tahun, 11-30 tahun, dan 31-50 tahun.

Sepantasnya, keberadaan pekarangan sebagai penyimpan karbon diperhitungkan dalam program mitigasi serta adaptasi perubahan iklim, termasuk dalam program Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD). Melalui penanaman, perawatan, dan konservasi pohon di pekarangan, relatif mudah mendorong masyarakat Indonesia untuk terlibat aktif dalam mengatasi emisi karbon serta menghadapi tantangan perubahan iklim global.

Leave a Reply

Your email address will not be published.