Bioetanol Cap Tikus

Keringat Musa masih mengucur usai mengambil nira dari kebun aren. Maklum selain harus memanjat 7 pohon aren setinggi rata-rata 12 meter, jarak dari kebun ke seledo (tempat penyulingan nira) cukup jauh, sekitar 1 km.

Meski begitu, Musa segera menyalakan perapian untuk menyuling nira. Alat penyuling berupa drum terhubung dengan batang-batang bambu yang membentuk segitiga: tinggi 9 meter, sisi miring 15 meter, dan mendatar 15 meter.

Musa memang tak memfermentasi air sadapan aren. Sebab, sejak bunga aren terpotong dan air menetes, fermentasi secara alamiah telah berlangsung. Di pelepah-pelepah dan tangkai bunga terdapat banyak bakteri fermentor.

Setelah drum tempat memasak panas, penyuling bioetanol selama 15 tahun itu menuangkan air nira dari jeriken-jeriken bervolume 20 liter. Setengah jam kemudian tetesan-tetesan bioetanol ditampung di botol beling atau botol bekas kemasan air mineral.

Masyarakat setempat menyebut tetesan hasil sulingan itu dengan nama cap tikus. Disebut cap tikus karena ketika mengucur dari batang bambu yang berujung runcing ke mulut botol, bentuknya mirip ekor tikus. Kadar alkohol cap tikus 40-50%, tergantung panas api. Semakin besar api, kadar alkohol yang dihasilkan semakin rendah karena banyak uap air terbawa bersama uap alkohol.

Menurut Musa, api harus dipertahankan stabil supaya kadar alkohol sama. Warga Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, itu membutuhkan waktu 3 jam untuk menyuling 93,3 liter hasil fermentasi saguer–sebutan nira aren di Minahasa Utara. Hasilnya 13,3 liter berkadar alkohol 40%.

Jika ingin menghasilkan kadar alkohol 50%, ia memerlukan waktu 3,5 jam karena menggunakan api kecil dan volume cap tikus pun hanya 6,67 liter. Cap tikus berkadar 40-50% itulah yang dibeli pengusaha bioetanol untuk dimurnikan kembali hingga mencapai kadar alkohol 90-99,9% yang cocok dipakai sebagai bahan bakar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + = 6