Prospek Pengembangan Tanaman Wijen

0
17
budidaya tanaman wijen

Tanaman wijen Sesamum indicum menghasilkan biji wijen yang bernilai ekonomi antara lain sebagai penghias makanan serta minyak nabati yang beraroma harum.

Sentra pengembangan tanaman wijen di Indonesia terdapat di Jawa Timur (Ngawi dan Nganjuk) serta Jawa Tengah (Klaten, Sragen, dan Sukoharjo). Tanaman wijen tersebut dibudidaya di lahan sawah seusai panen padi dengan produktivitas rendah sekitar 800-900 kg/ha serta harga jual Rp17.000-Rp18.000/kg.

Saat ini periset di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) di Malang, Jawa Timur, mengembangkan varietas tanaman wijen unggul, yaknis winas-1 (winas=wijen nasional) dan winas-2. Kedua varietas tersebut memiliki induk sama, yakni varietas sumberrejo-1 yang dirilis pada 1997. Varietas tersebut memiliki produktivitas tinggi hingga 1,6 ton/ha serta adaptif di lahan kering serta sawah.

Potensi produksi winas-1 mencapai 2,2 ton/ha dengan rata-rata produksi 1,4-1,5 ton/ha. Kulit biji winas-1 putih kecokelatan, berbunga umur 36 hari dan siap panen pada 97-105 hari. Saat tanaman berbunga dapat mencapai tinggi 113-146 cm dengan panjang buah 2,22-2,5 cm dan berkolom 4 alias belimbing 4.

Bobot 1.000 biji sebesar 3,17 gram dengan kadar minyak 50,88%. Sementara itu, winas-2 memiliki potensi produksi 1,8 ton/ha dengan rata-rata 1,2-1,4 ton/ha. Jenis itu berbatang lebih pendek, 105-138 cm dan siap dipanen umur 61-65 hari.

Kebutuhan benih dan perawatan kedua varietas tersebut juga sedikit dan mudah. Untuk 1 hektar memerlukan sekitar 6 kg benih dengan harga sekitar Rp25.000/kg. Untuk satu kali budidaya tanaman wijen, diperlukan sekitar 200 kg pupuk majemuk NPK, 150 kg Urea, serta 250 kg pupuk kandang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here