Daun Alpukat Pereda Stroke

daun-alpukat-1Sasti Wirawan di Palembang, Sumatera Selatan tak menduga santapan kerang, cumi, dan kepiting pada suatu sore medio 2011 beujung tragis.

Sehabis menyantap, bu 3 anak itu didera sakit kepala. Sampai 2 hari, sakit itu tak kunjung membaik. Parahnya, sebagian tubuh Sasti mendadak lumpuh. “Tubuh kiri saya tidak dapat digerakkan,” ujarnya.

Setelah menjalani pemeriksaan, diagnosis dokter, perempuan 49 tahun itu terkena stroke. Tekanan darah mencapai 230/140 mmHg. Sasti mengalami hipertensi. Hipertensi terjadi karena peningkatan tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg. Sebab kondisi itu, dokter menduga stroke Sasti terpicu hipertensi.

Sepekan dirawat, tangan dan kaki Sasti belum bergerak. Pemeriksaan CT scan dan RMI tidak menunjukkan adanya penyumbatan pembuluh darah sehingga dokter menganjurkan tes transducer Doppler (TCD). hasil tes itu memperlihatkan adanya penyumbatan di leher bagian kiri Sasti. Itu biang kerok Sasti belum bisa bergerak.

Sejatinya, stroke terjadi karena asupan oksigen dan nutrisi ke otak terhambat sehingga sel otak mati. Tidak terkontrol tekanan darah memicu stroke karena merusak dan melemahkan pembuluh darah otak. Efeknya, pembuluh darah menyempit, sobek, atau bocor. Tingginya kadar kolesterol darah juga meningkatkan risiko serangan stroke.

Angka stroke meningkat pada pasien berkadar kolesterol di atas 240 mg/dl. Setiap kenaikan 38,7 mg/dl kolesterol, peluang stroke meningkat 25%. Namun, kenaikan high density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik dengan jumlah sama menurunkan risiko stroke 47%. Makanan laut seperti kerang, kepiting, dan cumi mengandung kolesterol tinggi. Kehadiran kolesterol di darah, membuat darah kental sehingga tekanan meningkat.

Dua pekan menjalani perawatan, tangan dan kaki Sasti mulai bisa digerakkan. Itu karena Sasti mengonsumsi obat penurun dan pengencer darah. Pascarawat, Sasti mesti menjalani kontrol rutin, selain rajin mengonsumsi obat. Selama 3 tahun mengonsumsi obat, tekanan darah Sasti 130/80 mmHg.

Meski demikian Sasti tetap khawatir konsumsi obat kimia berefek pada ginjal. Sebab itu menjalani pengobatan herbal. Ia disarankan kerabat mengonsumsi rebusan daun alpukat Persea americana. Sasti merebus 7 daun dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa 2 gelas. Setelah dingin, ia membagi ramuan itu untuk diminum sehari tiga kali.

Setelah 4 bulan rutin konsumsi herbal itu, kondisi Sasti membaik. Pengukuran tekanan darahnya menunjukkan angka 130/85 mmHg. Bobot tubuhnya meningkat menjadi 58 kg dari sebelumnya 47 kg. “Saya tidak perlu lagi obat dokter,” katanya.

Daun alpukat memang dapat mengatasi hipertensi, kolesterol tinggi, serta gangguan fungsi ginjal. Riset Azizahwati MS. Apt bersama rekan di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, membuktikan daun alpukat secara praklinis menurunkan hiperlipidemia. Dalam riset lain, Azizah juga menguji daun alpukat untuk hipertensi. Dari kedua riset itu, daun alpukat manjur menurunkan tekanan darah dan kolesterol.

Azizah menduga, aktivitas daun alpukat menurunkan kadar kolesterol, LDL, dan trigliserida karena senyawa kuersetin. Senyawa itu berkhasiat sebagai antioksidan penghambat oksidasi LDL. Akibatnya, pembuluh darah terlindungi. Selain itu, daun alpukat mengandung sterol untuk menurunkan absorbsi kolesterol di saluran pencernaan serta meningkatkan ekskresinya dari saluran empedu. Pantas daun alpukat manjur membantu mengobati hipertensi dan stroke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *